Penulis: Peny Ariani, SST, M.Keb

1.      Kaitan Paradigma Kebidanan Dengan Asuhan Kebidanan

Keberhasilan pelayanan kebidanan dipengaruhi oleh pengetahuan dan cara pandang bidan dalam kaitan atau hubungan timbal balik antara manusia/wanita, lingkungan, perilaku, pelayanan kebidanan dan keturunan yang merupakan komponen paradigma kebidanan.

Komponen paradigma kebidanan merupakan beberapa hal yang menjadi dasar cara pandang bidan dalam memberikan pelayanan, dimana komponen ini terkait oleh hubungan timbal balik antara bidan è kesehatan (yang dipengaruhi oleh perilaku, keturunan, pelayanan dan lingkungan) è manusia (sebagai objek pelayanan bidan yang pada khususnya terhadap wanita). Keterkaitan antara paradigma kebidanan dengan asuhan kebidanan dapat dilihat berdasarkan komponen paradigma kebidanan itu sendiri, yaitu :

a.      Wanita

Manusia (wanita) merupakan fokus dari pelayanan kebidanan. wanita bertindak sebagai klien yang merupakan mahluk bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual. Dalam hal ini seorang bidan harus memiliki cara pandang terhadap wanita secara menyeluruh (komprehensif), dimana dalam memberikan pelayanan seorang bidan harus terlebih dahulu melihat wanita tersebut dari segi è (1) Biology : yang berarti fisik atau keadaan tubuh, yang dilakukan pada pemeriksaan fisik, (2) Pshycology : yang berarti wanita mempunyai kepribadian yang terdiri atas id – ego – super ego. Wanita mempunyai daya pikir dan kecerdasan, mempunyai kebutuhan psikologis agar pribadinya dapat berkembang (penghargaan dicintai, rasa aman, disiplin dan belajar). Psikis wanita tersebut termasuk kondisi keluarga atau permasalahan yang dapat memicu terjadinya keluhan wanita tersebut, (3) Sociology : yang berarti wanita hidup bersama-sama orang lain, keluarga, kelompok kecil, mempunyai kebudayaan dan masyarakat. Dimana wanita dipengaruhi dan beradaptasi dengan lingkungan keadaan sosial wanita tersebut, baik yang dilihat dari lingkungan, dukungan, dan pergaulan, (4) Cultural : yang berarti budaya atau kebiasaan adat istiadat yang dimiliki wanita, sehingga tidak melanggar dari norma-norma adat istiadat atau kebiasaan sehingga pelayanan dapat diterima dengan baik, dan ke (5) Spiritual : yang berarti hubungan wanita (seseorang) terhadap kepercayaan yang dianut, sehingga pelayanan tidak menyimpang dari syariat atau hukum kepercayaan yang dianut. Dengan ini pelayanan kebidanan harus memperhatikan kebutuhan dasar yang bervariasi pada tiap wanita sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Homeostatis adalah proses yang mempertahankan stabilitas. Homeostatis disamakan dengan konsep equilibrium. Equilibrium adalah keadaan berimbang dimana dua tenaga (kekuatan) yang sama saling berhadapan. Homeostatis fisiologis dan psikososial tidak dapat dipisahkan, karena saling mempengaruhi, akibatnya setiap waktu dapat dilihat bahwa homeostatis memang memerlukan lebih dari satu mekanisme yang bekerja. Untuk membantu keseimbangan homeostatis fisiologis dan psikologis manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi dengan memuaskan. Kebutuhan adalah sesuatu yang berguna dan diperlukan untuk menjaga homeostatis.

Kebutuhan manusia menurut teori Maslow dikenal dengan konsep tenaga-untuk-tubuh. Menurut Abraham Maslow setiap orang berusaha keras untuk menjadi segala sesuatu yang sanggup dicapainya yang terdiri dari kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan akan zat asam, makanan, air, istirahat, seks. Menurut Maslow bagian atas dari hirarki tidak akan dapat terpenuhi atau dibolehkan dicapai, kecuali terlebih dahulu kebutuhan tingkat rendah dipenuhi sampai suatu taraf. Adakalanya kebutuhan itu tidak seluruhnya dipenuhi sesuai dengan teori hirarki, tapi umumnya pemenuhan kebutuhan sesuai dengan hirarki Maslow.

Kualitas manusia sangat ditentukan oleh keberadaan/ kondisi dari wanita dalam keluarga. Para wanita dimasyarakat adalah penggerak dan pelopor dari peningkatan kesejahteraan keluarga. Wanita sebagai ibu adalah penerus keluarga dan bangsa sehingga keberadaan wanita yang sehat jasmani dan rohani serta sosial sangat diperlukan. Wanita dan bidan yang juga merupakan seorang wanita memiliki peran yang berbeda-beda, yaitu :

  • Peran wanita di dalam keluarga
  1. Sebagai pendamping è kebutuhan pelayanan berorientasi kepada dukungan keluarga dalam mendampingi suami yang harus mampu menjadi istri yang baik. Dan memberikan yang terbaik buat pasangan dan keturunannya.
  2. Sebagai pengelola è kebutuhan pelayanan berorientasi kepada keadaan fisik dan psikis serta social, karena hal ini terlibat dengan pengetahuan mengatasi pengaturan pemenuhan kebutuhan hidup dalam rumah tangga.
  3. Sebagai pencari nafkah è kebutuhan pelayanan berorientasi kepada keadaan fisik dan psikis, karena beban rumah tangga yang ditanggung bisa mengesampingkan kesehatan sehingga akan berdampak terhadap kehamilan maupun peran menjadi seorang ibu dan istri.
  4. Sebagai penerus generasi è kebutuhan pelayanan berorientasi kepada kebutuhan fisik, psikis dan social, dimana seorang wanita yang sehat akan menghasilkan generasi yang sehat pula, sehingga asuhan yang diberikan sepanjang daur kehidupan harus berimplikasi kepada upaya menghasilkan keturunan yang cerdas dan sehat sebagai penerus generasi bangsa.
  • Peran bidan untuk individu dan masyarakat
  1. Menolong individu mengatasi dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan
  2. Membawa perubahan tingkah laku yang positif
  3. Merencakan perawatan yang bersifat individual
  4. Mengetahui budaya-budaya yang berkembang dalam masyarakat
  5. Menerapkan pendekatan komprehensif.

Untuk ini kaitan cara pandang bidan dalam memberikan asuhan kebidanan terhadap wanita berdasarkan peran wanita didalam keluarga, sehingga asuhan yang diberikan harus menyeluruh dengan tetap melihat pada defenisi wanita yang merupakan makhluk bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual. Sebagai klien yang bersifat individu, sasaran asuhan kebidanan pada dasarnya adalah biopsikososial dan spritual yang berbeda dengan individu lainnya. karena itu diharapkan terjadi proses pemenuhan kebutuhan dasar kearah kemandirian / mengembangkan potensi klien serta menolongnya untuk mengatasi keterbatasannya dalam mengunakan sumber secara tepat.

b.      Lingkungan

Lingkungan merupakan semua yang ada dilingkungan dan terlibat dalam interaksi individu pada waktu melaksanakan aktifitasnya. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan fisik, lingkungan psikososial meliputi keluarga, kelompok, komuniti maupun masyarakat. Masyarakat adalah organisasi yang terbentuk akibat interaksi antara manusia, budaya, dan lingkungan yang bersifat dinamis terdiri dari individu, keluarga, kelompok dan komuniti yang mempunyai tujuan dan system.

Konsep lingkungan yang merupakan dasar pemberian asuhan kebidanan ini terbagi menjadi :

  • Lingkungan fisik yang dimaksud adalah segala bentuk lingkungan secara fisik yang dapat mempengaruhi perubahan status kesehatan seperti adanya daerah-daerah wabah, lingkungan kotor, dekat pembuangan air limbah atau sampah dan lain-lain.
  • Lingkungan psikologis artinya keadaan yang menjadikan terganggunya psikologis pada seseorang seperti lingkungan yang kurang aman mengakibatkan kecemasan dan ketakutan akan bahaya yang ditimbulkannya.
  • Lingkungan sosial dalam hal ini adalah masyarakat yang luas serta budaya yang ada juga dapat mempengaruhi status kesehatan seseorang dalam kehidupan spiritual juga mempengaruhi perkembangan seseorang dalam kehidupan beragama serta meningkatkan keyakinan.

Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya, lingkungan sebagai wajah budaya bagi individu berarti pula bahwa individu sendiri telah berperan sebagai pusat dari lingkungan tersebut. Maka dalam berhadapan dengan lingkungan tersebut memungkinkan timbulnya peranan lingkungan bagi individu sebagai berikut :

  • Lingkungan sebagai alat bagi individu, alat untuk kepentingan kelangsungan hidup, dan dalam pergaulan sosial
  • Lingkungan sebagai tantangan bagi individu, sehingga lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya.
  • Lingkungan sebagai sesuatu dalam batas-batas kemampuannya, lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan daya tarik kepada individu untuk mengikutinya. Individu peka akan perubahan lingkungan sehingga individu selalu berpartisipasi didalamnya.
  • Lingkungan objek penyesuaian diri bagi individu, lingkungan mempengaruhi individu, sehingga ia berusah untuk menyesuaikan dirinya denga lingkungan tersebut.

Untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan terdapat dua bentuk yaitu autoplastis dan alloplastis berarti bahwa individu berusaha agar lingkungan sesuai dengan dirinya. Sedangkan autoplastis penyesuaian diri dimana indiividu berusaha agar dirinya sesuai dengan keadaan lingkungan yang bersangkutan.

Maka kaitan Paradigma kebidanan dalam konsep lingkungan ini adalah memandang bahwa lingkungan fisik, psikologis, sosial, budaya dan spiritual dapat mempengaruhi kebutuhan dasar manusia selama pemberian asuhan kebidanan dengan meminimalkan dampak atau pengaruh yang ditimbulkannya sehingga tujuan asuhan kebidanan dapat tecapai.

c.       Perilaku

Perilaku merupakan hasil dari pengalaman serta interaksi manusia dalam lingkungannya, yang terwujud dalam bentuk pengetahuan sikap dan tindakan. Perilaku manusia bersifat holistic atau menyeluruh. Perilaku dalam pandangan biologis adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, perilaku manusia itu mempunyai cakupan yang sangat luas, mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian dan sebagainya. Bahkan kegiatan internal seperti berpikir, persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh seseorang, baik diamati secara langsung atau secara tidak langsung (Notoatmodjo, 1996)

Bentuk perilaku ada 2 macam yaitu:

  • Bentuk pasif (respon internal), yaitu respon yang terjadi dalam dirimanusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya seorang ibu tahu bahwa tablet penambah darah itu sangat dibutuhkan saat kehamilan, meskipun ibu tersebut tidak meminum tablet penambah darah secara rutin. Dari contoh ini terlihat bahwa ibu tersebut telah tahu guna tablet Fe meskipun dirinya sendiri belum melakukan secara nyata dengan meminum rutin tablet penambah darah. Oleh sebab itu jenis perilaku ini disebut covert behaviour (perilaku terselubung).
  • Bentuk aktif, , yaitu jika perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya ibu melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Karena perilaku ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata maka disebut over behaviour.

Adapun fakfor yang mempengaruhi perilaku seeorang Menurut Green (1990) perilaku seseorang ditentukan oleh 3 Faktor :

  • Predisposing factors : meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai dan persepsi.
  • Enabling factors : meliputi lingkungan dan fasilitas dari sarana kesehatan
  • Reinforcing factors : meliputi sikap dan perilaku petugas kesehatan.

Perilaku ibu selama kehamilan akan mempengaruhi kehamilan, perilaku ibu dalam mencari penolong persalinan akan mempengaruhi kesejahteran ibu dan yang dilahirkan. Demikian pula dengan perilaku ibu pada masa nifas akan mempengaruhi kesehatan ibu dan bayinya.

Bidan sebagai pemberi asuhan kebidanan juga harus memiliki perilaku professional yang mencakup:

  • Dalam melaksanakan tugasnya, bidan berpegang teguh pada filosofi etika profesi dan aspek legal.
  • Bertanggung jawab dalam keputusan klinis yang dibuatnya
  • Senantiasa mengikuti perkembangan pengetahuan dan keterampilan mutakhir secara berkala
  • Menggunakan konsultasi dan rujukan yang tepat selama memberikan asuhan kebidanan
  • Menghargai dan memanfaatkan budaya setempat sehubungan dengan praktik kesehatan, kehamialan, kelahiran, periode pasca salin, bayi baru lahir dan anak.
  • Menggunakan model kemitraan dalam bekerjasama dengan kaum wanita/ibu agar mereka dapat menentukan pilihan yang telah di informasikan tentang semua aspek asuhan, meminta persetujuan secara tertulis supaya mereka bertanggungjawab atas kesehatannya sendiri
  • Menggunakan keterampilan berkomunikasi
  • Bekerjasama dengan petugas kesehatan lain untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan keluarga.

d.      Pelayanan kebidanan

Pelayanan kebidanan adalah suatu praktik pelayanan kesehatan yang spesifik bersifat reflektif dan analisis ditujukan pada wanita khususnya bayi, ibu dan balita dilaksanakan secara mandiri dan profesional yang didukung oleh seperangkat ilmu pengetahuan  yang saling terkait dengan menggunakan suatu metode ilmiah, dilandasi oleh etika dan kode etik profesi.

Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang memberikan asuhan esensial dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan ibu  dan anak balita yang mempengaruhi tingkat kesehatan keluarga. Pelayanan kebidanan yang dilaksanakan diberikan oleh bidan  adalah sesuai dengan kewenangannya berdasarkan peraturan yang ditetapkan pemerintah sesuai standar yang ditetapkan. Pelayanan kebidanan merupakan layanan yang diberikannya dengan maksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka terciptanya keluarga bahagia dan sejahtera. Sasaran kebidanan adalah individu, keluarga dan masyarakat, yang meliputi upaya-upaya berikut:

  • Peningkatan (promotif) : misalnya dapat dilakukan dengan adanya promosi kesehatan (penyuluhan tentang imunisasi, himbauan kepada masyarakat untuk pola hidup sehat
  • Pencegahan (preventif) : dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi TT pada ibu hamil, pemeriksaan hb, imunisasi bayi, pelaksanaan seman hamil dan sebagainya.
  • Penyembuhan (kuratif) : dilakukan sebagai upaya pengobatan misalnya pemberian transfusi darah pada ibu dengan anemia berat karena perdarahan postpartum.
  • Pemulihan (rehabilitatif) : misalnya pemulihan kondisi ibu post seksio caesaria (SC)

Asuhan kebidanan meliputi asuhan prakonsepsi, antenatal, intranatal, neonatal, nifas, keluarga berencana, ginekologi, premenopause, dan asuhan primer. Dalam pelaksanaannya, bidan bekerja dalam system pelayanan yang member konsultasi, managemen kolaborasi, rujukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan klien.

Pelayanan kebidanan merupakan perpaduan antara kiat dan ilmu. Bidan membutuhkan kemampuan untuk memahami kebutuhan wanita dan mendorong semangatnya serta menumbuhkan rasa percaya dirinya dalam menghadapi kehamilan, persalinan, maupun peran sebagai ibu. Dalam menjalankan tugasnya, bidan membutukan ilmu dan kemampuan untuk mengambil keputusan klinik.

e.      Keturunan

Kualitas manusia ditentukan oleh keturunan. Dimana manusia yang sehat akan dilahirkan oleh ibu yang sehat. Hal ini menyangkut penyiapan wanita sebelum perkawinan, sebelum kehamilan (prakonsepsi), masa kehamilan, masa kelahiran, dan masa nifas.

Sehingga kaitan cara pandang bidan dalam memberikan asuhan kebidanan berdasarkan keturunan dengan melihat kondisi fisik wanita pada masa prakonsepsi dan konsepsi, untuk menghasilkan keturunan yang berkualitas.

Contoh kaitan paradigma terhadap asuhan kebidanan :

  1. Asuhan kebidanan pada masa pra-konsepsi

Terkait kepada pemenuhan kebutuhan wanita dalam mempersiapkan kehamilan, dengan melihat keadaan bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual yang berpengaruh terhadap keadaan reproduksi wanita pra-konsepsi sehingga kehamilan direncakan dengan tujuan memperoleh kehamilan yang aman bagi ibu dan janin.

  1. Asuhan kebidanan pada ibu hamil

Pemberian asuhan pada ibu hamil dengan berdasar cara pandang terhadap lingkungan yang berpengaruh terhadap adaptasi ibu pada kehamilan dan perilaku ibu dalam menghadapi kehamilannya, sehingga pemeriksaan kehamilan dengan tujuan mendeteksi secara dini adanya komplikasi pada ibu serta untuk melihat perkembangan kehamilan, serta memberikan asuhan persiapan persalinan, sehingga adaptasi fisik dan psikologi ibu terhadap kehamilan dapat berjalan dengan baik dengan dukungan keluarga atau orang terdekatnya.

  1. Asuhan kebidanan pada ibu bersalin

Memberikan asuhan dalam mengurangi rasa nyeri akibat kontraksi, serta member dukungan psikologis dalam proses persalinan dengan melibatkan pendamping terdekat ibu, sehingga persalinan tetap menjadi persalinan fisiologis tanpa ada intervensi apapun.

  1. Asuhan kebidanan pada ibu nifas

Meliputi pencapaian peran ibu untuk menghindari terjadinya stress postpartum (Postpartum Blues), dimana berdasarkan cara pandang terhadap keadaan fisik dan psikis serta social pada ibu dalam pencapaian perannya sebagai ibu bagi anak yang dilahirkannya, serta bertujuan untuk involusi uterus dan adaptasi tubuh kembali setelah persalinan. Serta pemilihan metode keluarga berencana untuk memaksimalkan asuhan terhadap bayi yang dilahirkan.

  1. Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir

Dimulai dengan menilai kondisi bayi, memfasilitasi terjadinya pernafasan spontan dan melibatkan ikatan batin antara ibu dan bayi baru lahir dengan berbagai metode, serta pemenuhan kebutuhan bayi baru lahir, seperti pencegahan hipotermi, pemberian inisiasi menyusu dini, asi eksklusif dan imunisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *