PENDIDIKAN DAN PELAYANAN KEBIDANAN DILUAR NEGERI

By: Peny Ariani, SST, M.Keb

 

  1. Pendidikan

Pendidikan kebidanan di Indonesia pada umumnya telah memiliki system yang hampir sama dengan system pendidikan kebidanan diluar negeri, dalam hal ini saya mengambil contoh pendidikan kebidanan di New Zealand yang telah menjadi pemimpin dunia dalam menetapkan standar untuk praktik kebidanan dan profesionalisme. Pada dasarnya pendidikan kebidanan yang tumbuh dalam dinamika yang tidak terkendali merupakan akibat dari tumbuhnya institusi pendidikan yang tidak mendahulukan kualitas dari system pendidikan.

Strategi pendidikan dan pelayanan di New Zealand pada umumnya lebih melihat dari segi sosiologi dalam hal ini kultural (budaya) dan pemerataan pendidikan dan pelayanan yang berfokus kepada perempuan “Woman Centre”. Dengan melihat strategi International Confederation of Midwifery (ICM) dimana dalam mengatasi kematian ibu dan bayi diseluruh dunia dengan memperkuat kebidanan yang dibangun atas tiga pilar untuk penyediaan tenaga kerja kebidanan yang berkualitas, yaitu dengan : pendidikan, regulasi dan asosiasi profesi. (1)Pendidikan yag merupakan langkah awal menciptakan bidan yang berkompeten dilakukan dengan proses pendidikan yang berbasis kompetensi dengan keilmuan yang terintegrasi dan scenario kasus yang didapat dalam praktik klinis mahasiswa. (2) Regulasi dalam hal ini pemerintahan New Zealand melakukan pemerataan pendidikan sekaligus pelayanan kebidanan pada daerah daerah yang membutuhkan pelayanan kebidanan sesuai dengan kultural yang dimiliki. (3) asosiasi profesi kebidanan di New Zealand jelas berperan penting dalam penilaian klinis mahasiswa diakhir program dan menilai assesmen klinis melalui OSCE, dari tiga hal yang telah diterapkan New Zealand maka tidak heran kalau program pendidikan kebidanan di New Zealand dapat berkembang dan memiliki kualitas sehingga diakui dunia karena standard dan kompetensi pendidikan kebidanannya telah sesuai 100% dalam penerapan model asuhan kebidanan.

Kuantitas tidak menentukan kualitas, hal ini merupakan salah satu tolak ukur oleh Negara New Zealand dalam mendirikan suatu pendidikan kebidanan, dimana program pendidikan kebidanan diatur oleh Dewan Kebidanan yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Keseharan Jaminan Kompetensi Praktisi Tahun 2003. Dan yang paling penting program pendidikan ini mengarah dan tetap berbasis cultural dimana memungkinkan peserta didik untuk belajar dimana mereka tinggal, sehingga mereka tidak perlu pindah ke Dunedin atau Christchurch untuk mengakses pendidikan kebidanan didukung oleh penempatan satelit untuk melakukan video conference antara studi interaktif antar mahasiswa diberbagai daerah. Dengan ini, peserta didik lebih cenderung tetap bekerja di pelayanan bersalin pada daerah tempat dia tinggal setelah lulus sehingga program ini akan membantu menyelesaikan isu-isu tenaga kerja yang ada didaerah pedesaan dan provinsi dari Pulau Selatan dan Pulau Utara yang lebih rendah, sehingga pelayanan yang dihasilkan akan merata disemua tempat.

Penyediaan kebutuhan untuk pendidikan kebidanan dilakukan dengan tiga tahun masa pembelajaran untuk masuk ke profesi dengan minimum 1500 jam teori, minimum 1500 jam praktek klinis, adanya kontinuitas dari pengalaman perawatan, memiliki penempatan klinis yang ragam termasuk rumah sakit, homebirth, unit bersalin, dan masyarakat, memfasilitasi minimum dari 30 persalinan dan memenuhi kompetensi untuk pendaftaran sebagai bidan. Adapun kompetensi untuk mendaftar sebagai Bidan di New Zealand dikembangkan oleh otoritas regulasi bekerjasama dengan New Zealand College Of Midwifery (NZCOM), memiliki empat kompetensi terpadu dengan masing-masing kriteria kinerja. Ada keselamatan untuk praktek sebagai bidan jika terbukti ketika pemohon menunjukkan empat kompetensi yang telah dilakukan.

Adapun syarat kompetensi untuk praktek sebagai Bidan yaitu dengan (1) Bekerja dalam kemitraan dengan wanita seluruh pengalaman bersalin, (2) Pemohon menerapkan pengetahuan teoritis dan ilmiah yang komprehensif dengan kemampuan afektif dan teknis yang diperlukan untuk memberikan asuhan kebidanan yang efektif dan aman, (3) Pemohon mempromosikan praktek-praktek yang meningkatkan kesehatan wanita dan keluarganya / whanauand yang mendorong partisipasi mereka dalam perawatan kesehatannya dan (4) Pemohon harus menggunakan pertimbangan profesional sebagai seorang praktisi reflektif dan kritis ketika memberikan asuhan kebidanan.

Strategi pendidikan dalam pemberian perawatan yang berkesinambungan dilakukan dengan semua pengalaman klinis dalam kontinuitas model perawatan, dimana (1) Tahun pertama siswa mengikuti 2 atau 3 perempuan dari awal kehamilan sampai enam minggu setelah melahirkan dengan memperhatikan peran orang yang mendukung, (2) Tahun kedua siswa mengikuti 8 wanita dari awal kehamilan sampai enam minggu setelah melahirkan. Dengan melihat ketrampilan praktek klinik di bawah pengawasan bidan yang merawat wanita,(3) Tahun ketiga mahasiswa ditempatkan selama 28 minggu dengan system ‘satu-lawan-satu’ dengan bidan independen dimana 4 minggu di pedesaan, 14 minggu menjadi bidan independen, dan 10 minggu elektif, (4) Pelayanan yang diberikan juga harus ada persetujuan dari Wanita tersebut serta adanya dukungan dosen pada saat melaksanakan praktek lapangan.

Strategi pendidikan dalam praktek reflektif dicapai dimana siswa mempertahankan log klinis  berdasarkan pengalaman yang didapat, adanya Tanya-jawab dengan dosen secara tatap muka langsung dengan prinsip “satu-lawan-satu” dan dalam kelompok-kelompok tutorial kecil, menggunakan siklus praktek (praktek; refleksi; aksi-praktek), menggunakan eksemplar dalam tugas, membantu pengembangan keterampilan berpikir kritis, praktek profesional dan berbasis evidencebased practice. Dalam hal ini NZCOM memiliki proses ulasan dalam menentukan standar kebidanan dengan (1) Praktek reflektif yang diperlukan dari semua bidan praktek, (2) Bidan menyajikan review beban kasus tahun sebelumnya, (3) Melihat hasil statistik, self assessment terhadap standar untuk praktek dan umpan balik konsumen, (4) Adanya proses pendidikan yang mendukung untuk rencana pengembangan professional, (5) Adanya MSR atau portofolio yang diperlukan sebagai bukti kompetensi yang berkelanjutan untuk berlatih.

System pendidikan kebidanan selain melihat dari segi aplikasi mahasiswa terhadap teori yang didapat melalui pengalaman praktek klinik, juga dipengaruhi oleh Scenario based teaching oleh tenaga pendidik yang menerapkan system pendidikan berbasis kompetensi dengan cara; (1) Menyediakan model melakukan peran penting “role model”, (2) Membutuhkan tingkat pengetahuan yang tinggi, kemampuan untuk berbagi pengetahuan, kreadibilitas professional pada praktek, (3) Teori pengajaran berdasarkan skenario dari praktek, (4) Mengarahkan belajar secara mandiri (Student Central Learning), (5) Integrasi dari semua aspek kurikulum (fisiologi, praktek, penelitian, farmakologi dll), (6) Pengembangan penilaian kebidanan dan keterampilan diagnostik, intervensi rencana, perawatan mengevaluasi, dan memelihara fisiologi normal, (7) Pembelajaran dengan diskusi kepada mahasiswa (tidak menjadi Teacher Central Learning), (8) Integrasi teori dan kontekstual praktik dalam pembelajaran.

Pembelajaran dengan berbasis kompetensi juga didukung dengan alat penilaian klinis yang dikembangkan melalui kerjasama dengan bidan setempat dan wanita berdasarkan kompetensi Standar pendaftaran dan NZCOM untuk Praktek. Dimana ada lima daerah penilaian dengan kriteria : Kemitraan bidan dan wanita, praktik kebidanan, mengajar dan belajar, praktek pribadi / profesional, safety / medico-legal practice, serta ada sistem scoring yang bervariasi untuk setiap tahun dengan persyaratan minimum untuk kemajuan peserta didik selanjutnya. Alat penilaian klinis mahasiswa yang dipakai berupa : (1) Umpan balik dari wanita dan bidan, (2)Tahun kedua siswa menilai diri sendiri dan memberikan bukti untuk skor (buku log, umpan balik dari perempuan dan bidan) dan negosiasi skor akhir dengan dosen (3) Tahun akhir dinilai dengan pengawasan bidan dengan dukungan dari penilaian dosen dimana bidan seolah-olah baru terdaftar memasuki dunia kerja (harus memenuhi kompetensi untuk pendaftaran). Penilaian klinis mahasiswa juga dilihat dari strategi mahasiswa dalam menjawab kasus melalui soal Objective Structured Clinical Examination (OSCE) yang merupakan salah satu metode untuk menilai keterampilan kebidanan spesifik klinis dalam tahun pertama dan kedua (Menyusui, palpasi perut, infus intravena, mekanisme persalinan dengan komunikasi yang selalu terintegrasi). Beberapa stasi, masing-masing pengujian keterampilan yang berbeda yaitu dengan relawan wanita yang bertindak keluar skenario, dosen memfasilitasi dan mengamati, kedua wanita dan dosen yang terlibat dalam penilaian dan umpan balik kepada siswa, penilaian pengakuan kemitraan antara pendidik dan praktisi kebidanan; pemberian keputusan yang professional.

Sebagai kesimpulan system pendidikan kebidanan yang bisa diadop dari pendidikan kebidanan New Zealand ini adalah program pendidikan kebidanan harus mencerminkan bidan yang dibutuhkan berdasarkan kultural atau daerah di Indonesia, untuk menghasilkan; (1) Perkembangan dan penyampaian program yang penting dengan melibatkan profesi kebidanan dan konsumen (perempuan), (2) Program kebidanan New Zealand merupakan pendidikan yang terintegrasi dengan pelayanan bersalin yang mencerminkan peran bidan di New Zealand dan  menggambarkan ajaran teoritis dalam pemodelan peran melalui magang dan jenis pengalaman klinis untuk mengembangkan bidan yang kompeten.

  1. Pelayanan

Adapun Lingkup Praktek Kebidanan berupa : Pengaturan lingkup praktek untuk negara-negara tertentu, dimana lingkup praktek akan berbeda untuk mencerminkan konteks yang ada pada daerah tersebut. Dimana ICM memberikan definisi secara umum tentang ruang lingkup praktek bidan yaitu dengan (1) Pemberian hak otonomi pada semua aspek persalinan normal, atau yang berhubungan dengan keadaan darurat, yang bekerja sama dengan praktisi medis ketika masalah timbul, (2) Adanya spesialis dalam asuhan maternitas primer, (3) Perawatan kehamilan sampai enam minggu postpartum, (4) Perawatan ibu dan bayi.

Pelayanan kebidanan New Zealand yang terbentuk sekarang merupakan proses perbaikan dari sejarah pelayanan kebidanan terdahulu yang berubah karena para wanita memberontak terhadap model asuhan persalinan, sehingga wanita tersebut menuntut kembalinya bidan ‘tradisional’, ingin mengambil kembali kendali pengalaman persalinan mereka dan percaya bahwa bidan akan mendukung mereka untuk kembali melihat bahwa proses persalinan adalah peristiwa kehidupan normal, menginginkan bidan langsung masuk secara otonomi di daerah masing-masing sehingga memberikan pelayanan kebidanan yang berbasis cultural. Pelayanan kebidanan pada saat ini dilakukan oleh mayoritas bidan yang bekerja secara independen dengan beban kasus sendiri dimana klien bertanggung jawab untuk semua perawatan mereka dalam lingkup praktek kebidanan. Sebagian besar bidan bekerja berpasangan, masing-masing dengan beban kasus dari 40 -50 wanita per tahun, menyediakan cadangan untuk satu sama lain dalam memberikan pelayanan dengan tidak memiliki hari libur sehingga pelayanan yang diberikan merupakan pelayanan primer 24 jam, dengan selalu berkonsultasi dan berkolaborasi dengan dokter kandungan jika muncul masalah. Sehingga semua perawatan bersalin (kecuali dokter kandungan swasta) adalah gratis dan lebih dari 90% wanita memiliki perawatan yang berkesinambungan dan lebih dari 75% wanita memiliki semua perawatan dari bidan mandiri. Pilihan yang diinformasikan dan persetujuan dalam menerima pelayanan yang ditentukan adalah hak perempuan.

Pelayanan kebidanan di New Zealand merupakan perawatan berkompetensi budaya. Dengan keragaman suku dan budaya, sehingga memiliki variasi luas dalam status kesehatan, sehingga bidan di negara tersebut dipersiapkan di berbagai daerah dengan pemerataan melalui pendidikan bersistem satelit, sehingga bidan lebih banyak berasal dari daerah masing-masing dan untuk bekerja di daerah mereka sendiri agar pemberian pelayanan berkompetensi budaya bisa tetap dalam standar kesehatan yang ditetapkan, sehingga pelayanan yang berpusat kepada wanita “women centre” bisa dicapai dengan nyaman dan sikap terbuka atas keyakinan budaya yang dimiliki.

  1. Pandangan terhadap mitos perawatan postpartum masyarakat Minangkabau dari perspektif sosiologi

Jawab :

Sebelumnya penulis mendapat cara perawatan postpartum masyarakat Minangkabau tidak dengan peninjauan secara langsung berhubung penulis adalah pendatang dan berasal dari Sumatera Utara dan bersuku Melayu, sehingga perawatan postpartum pada masyarakat minangkabau penulis dapat melalui jurnal repository usu yang berjudul “Perspektif Budaya Minang Terhadap Perawatan Ibu Postpartum” dengan desain penelitian kualitatif yang dilakukan di kelurahan kotamatsum IV, Kecamatan Medan Area Sumatera Utara Tahun 2011 dengan 7 orang partisipan yang meliputi : (1) upaya memulihkan tingkat kebugaran tubuh dengan cara “betangeh”, (2) upaya memperlancar pengeluaran darah nifas dengan meminum air telur ayam kampong dan kopi, meminum daun papaya dan asam jeruk nipis, serta meminum asam jawa dan gula merah dan induk kunyit, (3) upaya menjaga kebersihan alat genetalia dengan “cebok” menggunakan air sirih, duduk diatas batu bata yang telah dipanasi, (4) upaya pemulihan bentuk perut dengan tapal perut beserta pemakaian gurita.

Konsep budaya memiliki cara pandang yang banyak yaitu : (1) budaya bukanlah hal yang statis melainkan bersifat dinamis dan selalu berubah, (2) budaya, bahasa, etnik dan ras bukanlah hal yang paling mempengaruhi nilai, keyakinan dan perilaku, namun pekerjaan status social-ekonomi, pembawaan budaya dan tingkat pendidikan mempengaruhi cara seseorang menjelaskan dan menggambarkan dirinya, (3) dalam menggambarkan praktik budaya akan terdapat variasi sikap, keyakinan, dan perilaku yang sangat luas.

Dengan pendekatan biososiokultur dalam kajian antropologi, kehamilan dan kelahiran tidak hanya dilihat dari aspek biologis dan fisiologisnya saja, tetapi dilihat juga sebagai proses yang mencakup pandangan budaya yang ada sebagai pusat kekuatan dalam pengambilan keputusan mengenai pertolongan serta bayi dan ibu postpartum. Faktor yang paling mempengaruhi status kesehatan masyarakat adalah factor lingkungan yaitu pendidikan disamping factor-faktor lainnya, dimana jika masyarakat mengetahui dan memahami hal-hal yang mempengaruhi status kesehatan tersebut maka diharapkan masyarakat tidak melakukan kebiasaan/adat-istiadat yang merugikan kesehatan. Jika dilihat dari sudut pandang sosiologi perawatan postpartum yang dilakukan masyarakat Minangkabau pada umumnya hampir sama yang dilakukan oleh masyarakat jawa, melayu dan lain-lain. Sehingga sudah menjadi kebiasaan dari nenek moyang terdahulu dengan melakukan perawatan tersebut seorang ibu postpartum akan melewati masa nifas yang aman.

Profesi kebidanan sebagai suatu profesi yang memiliki landasan body of knowledge yang kuat memiliki pandangan terhadap sosiologi, karena setiap wanita berasal dari daerah dan memiliki budaya masing-masing. Perawatan postpartum masyarakat Minangkabau yang salah satunya adalah perawatan genetalia dengan “cebok” menggunakan rebusan daun sirih dan duduk diatas batu bata yang telah dipanaskan untuk menghindari terjadinya infeksi masa nifas adalah suatu hal yang perlu ditinjau aspek kerugian dan keuntungannya dalam sudut pandang sosiologi. Dalam hal ini daun sirih (piper betle) memiliki kandungan minyak terbang (betIephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan kavikol yang memiliki daya antioksidasi (mematikan kuman) dan fungisida (anti jamur). Sirih juga mempunyai manfaat untuk menghilangkan bau badan yang ditimbulkan bakteri dan cendawan, dan bersifat menahan perdarahan, menyembuhkan luka pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan. Jika ditinjau dari segi ekonomi, daun sirih banyak terdapat didaerah tersebut sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya yang mahal untuk membeli obat-obatan yang digunakan sebagai pembersih genetalia atau mengurangi konsumsi antibiotik pada masa postpartum, karena tubuh sendiri memiliki antibody sehingga perawatan dengan rebusan daun air sirih ini dapat diterima sebagai salah satu pelayanan kebidanan yang menguntungkan baik dari segi manfaat dan efisiensi biaya dengan tetap memberikan konseling dengan memperhatikan suhu air yang tidak terlalu panas, agar tidak menyebabkan peradangan pada sekitar perineum, karena jaringan kulit terkhusus vagina memiliki jaringan epitel yang lebih sensitive dibandingkan dengan kulit perineum.

Duduk diatas batu bata yang telah dipanaskan juga suatu upaya yang dilakukan masyarakat Minangkabau untuk mematikan kuman-kuman yang ada di genetalia dengan panas yang dihantarkan oleh batu bata tersebut sehingga kuman-kuman didaerah genetalia bisa mati sehingga luka dapat cepat mengering. Dengan ini energy panas yang dihantarkan oleh batu bata yang dipanaskan akan terpapar perineum yang apabila ada luka akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah disekitar perineum yang bisa berakibat buruk, energy panas yang berlebihan juga bisa menyebabkan inflamasi didaerah kulit perineum sehingga perlu juga dilihat bagaimana kondisi luka postpartum, dengan ini perawatan genetalia dengan batu bata ini masih perlu dipertimbangkan mengingat dengan air rebusan daun sirih sudah memiliki manfaat yang banyak dibanding duduk diatas batu bata yang dipanaskan.

Berpedoman pada pengertian kebudayaan itu terlihat jelas bahwa ada keterkaitan perilaku seseorang terhadap kesehatan yang ditentukan oleh faktor berfikir manusia terhadap hidup sehat, perilaku sehat seseorang terkait oleh pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma dalam lingkungan sosial masyarakat, sejalan dengan penjelasan kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia. Sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamanya serta menjadi landasan bagi terwujudnya perilaku dan tingkah laku manusia, kebudayaan dalam hal ini sebagai mekanisme kontrol dalam bagi kelakuan dan tindakan manusia sebagai pola bagi perilaku manusia

Banyak manfaat dan dampak dari tradisi perawatan postpartum masyarakat Minangkabau yang dirasakan oleh partisipan. Ini disebabkan oleh semua bahan-bahan yang digunakan dalam perawatan postpartum berasal dari bahan yang alami dan sangat berkhasiat karena tidak selamanya perawatan menurut adat itu salah dan merugikan. Masih ada hal yang berdampak positif bagi ibu postpartum. Sehingga diharapkan untuk pelaksanaan pelayanan kebidanan tidak harus melarang atau mengubah kebiasaan adat tersebut, selagi tidak merugikan bagi kesehatan.

KAITAN PARADIGMA KEBIDANAN DENGAN ASUHAN KEBIDANAN

Penulis: Peny Ariani, SST, M.Keb

1.      Kaitan Paradigma Kebidanan Dengan Asuhan Kebidanan

Keberhasilan pelayanan kebidanan dipengaruhi oleh pengetahuan dan cara pandang bidan dalam kaitan atau hubungan timbal balik antara manusia/wanita, lingkungan, perilaku, pelayanan kebidanan dan keturunan yang merupakan komponen paradigma kebidanan.

Komponen paradigma kebidanan merupakan beberapa hal yang menjadi dasar cara pandang bidan dalam memberikan pelayanan, dimana komponen ini terkait oleh hubungan timbal balik antara bidan è kesehatan (yang dipengaruhi oleh perilaku, keturunan, pelayanan dan lingkungan) è manusia (sebagai objek pelayanan bidan yang pada khususnya terhadap wanita). Keterkaitan antara paradigma kebidanan dengan asuhan kebidanan dapat dilihat berdasarkan komponen paradigma kebidanan itu sendiri, yaitu :

a.      Wanita

Manusia (wanita) merupakan fokus dari pelayanan kebidanan. wanita bertindak sebagai klien yang merupakan mahluk bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual. Dalam hal ini seorang bidan harus memiliki cara pandang terhadap wanita secara menyeluruh (komprehensif), dimana dalam memberikan pelayanan seorang bidan harus terlebih dahulu melihat wanita tersebut dari segi è (1) Biology : yang berarti fisik atau keadaan tubuh, yang dilakukan pada pemeriksaan fisik, (2) Pshycology : yang berarti wanita mempunyai kepribadian yang terdiri atas id – ego – super ego. Wanita mempunyai daya pikir dan kecerdasan, mempunyai kebutuhan psikologis agar pribadinya dapat berkembang (penghargaan dicintai, rasa aman, disiplin dan belajar). Psikis wanita tersebut termasuk kondisi keluarga atau permasalahan yang dapat memicu terjadinya keluhan wanita tersebut, (3) Sociology : yang berarti wanita hidup bersama-sama orang lain, keluarga, kelompok kecil, mempunyai kebudayaan dan masyarakat. Dimana wanita dipengaruhi dan beradaptasi dengan lingkungan keadaan sosial wanita tersebut, baik yang dilihat dari lingkungan, dukungan, dan pergaulan, (4) Cultural : yang berarti budaya atau kebiasaan adat istiadat yang dimiliki wanita, sehingga tidak melanggar dari norma-norma adat istiadat atau kebiasaan sehingga pelayanan dapat diterima dengan baik, dan ke (5) Spiritual : yang berarti hubungan wanita (seseorang) terhadap kepercayaan yang dianut, sehingga pelayanan tidak menyimpang dari syariat atau hukum kepercayaan yang dianut. Dengan ini pelayanan kebidanan harus memperhatikan kebutuhan dasar yang bervariasi pada tiap wanita sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Homeostatis adalah proses yang mempertahankan stabilitas. Homeostatis disamakan dengan konsep equilibrium. Equilibrium adalah keadaan berimbang dimana dua tenaga (kekuatan) yang sama saling berhadapan. Homeostatis fisiologis dan psikososial tidak dapat dipisahkan, karena saling mempengaruhi, akibatnya setiap waktu dapat dilihat bahwa homeostatis memang memerlukan lebih dari satu mekanisme yang bekerja. Untuk membantu keseimbangan homeostatis fisiologis dan psikologis manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi dengan memuaskan. Kebutuhan adalah sesuatu yang berguna dan diperlukan untuk menjaga homeostatis.

Kebutuhan manusia menurut teori Maslow dikenal dengan konsep tenaga-untuk-tubuh. Menurut Abraham Maslow setiap orang berusaha keras untuk menjadi segala sesuatu yang sanggup dicapainya yang terdiri dari kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan akan zat asam, makanan, air, istirahat, seks. Menurut Maslow bagian atas dari hirarki tidak akan dapat terpenuhi atau dibolehkan dicapai, kecuali terlebih dahulu kebutuhan tingkat rendah dipenuhi sampai suatu taraf. Adakalanya kebutuhan itu tidak seluruhnya dipenuhi sesuai dengan teori hirarki, tapi umumnya pemenuhan kebutuhan sesuai dengan hirarki Maslow.

Kualitas manusia sangat ditentukan oleh keberadaan/ kondisi dari wanita dalam keluarga. Para wanita dimasyarakat adalah penggerak dan pelopor dari peningkatan kesejahteraan keluarga. Wanita sebagai ibu adalah penerus keluarga dan bangsa sehingga keberadaan wanita yang sehat jasmani dan rohani serta sosial sangat diperlukan. Wanita dan bidan yang juga merupakan seorang wanita memiliki peran yang berbeda-beda, yaitu :

  • Peran wanita di dalam keluarga
  1. Sebagai pendamping è kebutuhan pelayanan berorientasi kepada dukungan keluarga dalam mendampingi suami yang harus mampu menjadi istri yang baik. Dan memberikan yang terbaik buat pasangan dan keturunannya.
  2. Sebagai pengelola è kebutuhan pelayanan berorientasi kepada keadaan fisik dan psikis serta social, karena hal ini terlibat dengan pengetahuan mengatasi pengaturan pemenuhan kebutuhan hidup dalam rumah tangga.
  3. Sebagai pencari nafkah è kebutuhan pelayanan berorientasi kepada keadaan fisik dan psikis, karena beban rumah tangga yang ditanggung bisa mengesampingkan kesehatan sehingga akan berdampak terhadap kehamilan maupun peran menjadi seorang ibu dan istri.
  4. Sebagai penerus generasi è kebutuhan pelayanan berorientasi kepada kebutuhan fisik, psikis dan social, dimana seorang wanita yang sehat akan menghasilkan generasi yang sehat pula, sehingga asuhan yang diberikan sepanjang daur kehidupan harus berimplikasi kepada upaya menghasilkan keturunan yang cerdas dan sehat sebagai penerus generasi bangsa.
  • Peran bidan untuk individu dan masyarakat
  1. Menolong individu mengatasi dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan
  2. Membawa perubahan tingkah laku yang positif
  3. Merencakan perawatan yang bersifat individual
  4. Mengetahui budaya-budaya yang berkembang dalam masyarakat
  5. Menerapkan pendekatan komprehensif.

Untuk ini kaitan cara pandang bidan dalam memberikan asuhan kebidanan terhadap wanita berdasarkan peran wanita didalam keluarga, sehingga asuhan yang diberikan harus menyeluruh dengan tetap melihat pada defenisi wanita yang merupakan makhluk bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual. Sebagai klien yang bersifat individu, sasaran asuhan kebidanan pada dasarnya adalah biopsikososial dan spritual yang berbeda dengan individu lainnya. karena itu diharapkan terjadi proses pemenuhan kebutuhan dasar kearah kemandirian / mengembangkan potensi klien serta menolongnya untuk mengatasi keterbatasannya dalam mengunakan sumber secara tepat.

b.      Lingkungan

Lingkungan merupakan semua yang ada dilingkungan dan terlibat dalam interaksi individu pada waktu melaksanakan aktifitasnya. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan fisik, lingkungan psikososial meliputi keluarga, kelompok, komuniti maupun masyarakat. Masyarakat adalah organisasi yang terbentuk akibat interaksi antara manusia, budaya, dan lingkungan yang bersifat dinamis terdiri dari individu, keluarga, kelompok dan komuniti yang mempunyai tujuan dan system.

Konsep lingkungan yang merupakan dasar pemberian asuhan kebidanan ini terbagi menjadi :

  • Lingkungan fisik yang dimaksud adalah segala bentuk lingkungan secara fisik yang dapat mempengaruhi perubahan status kesehatan seperti adanya daerah-daerah wabah, lingkungan kotor, dekat pembuangan air limbah atau sampah dan lain-lain.
  • Lingkungan psikologis artinya keadaan yang menjadikan terganggunya psikologis pada seseorang seperti lingkungan yang kurang aman mengakibatkan kecemasan dan ketakutan akan bahaya yang ditimbulkannya.
  • Lingkungan sosial dalam hal ini adalah masyarakat yang luas serta budaya yang ada juga dapat mempengaruhi status kesehatan seseorang dalam kehidupan spiritual juga mempengaruhi perkembangan seseorang dalam kehidupan beragama serta meningkatkan keyakinan.

Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya, lingkungan sebagai wajah budaya bagi individu berarti pula bahwa individu sendiri telah berperan sebagai pusat dari lingkungan tersebut. Maka dalam berhadapan dengan lingkungan tersebut memungkinkan timbulnya peranan lingkungan bagi individu sebagai berikut :

  • Lingkungan sebagai alat bagi individu, alat untuk kepentingan kelangsungan hidup, dan dalam pergaulan sosial
  • Lingkungan sebagai tantangan bagi individu, sehingga lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya.
  • Lingkungan sebagai sesuatu dalam batas-batas kemampuannya, lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan daya tarik kepada individu untuk mengikutinya. Individu peka akan perubahan lingkungan sehingga individu selalu berpartisipasi didalamnya.
  • Lingkungan objek penyesuaian diri bagi individu, lingkungan mempengaruhi individu, sehingga ia berusah untuk menyesuaikan dirinya denga lingkungan tersebut.

Untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan terdapat dua bentuk yaitu autoplastis dan alloplastis berarti bahwa individu berusaha agar lingkungan sesuai dengan dirinya. Sedangkan autoplastis penyesuaian diri dimana indiividu berusaha agar dirinya sesuai dengan keadaan lingkungan yang bersangkutan.

Maka kaitan Paradigma kebidanan dalam konsep lingkungan ini adalah memandang bahwa lingkungan fisik, psikologis, sosial, budaya dan spiritual dapat mempengaruhi kebutuhan dasar manusia selama pemberian asuhan kebidanan dengan meminimalkan dampak atau pengaruh yang ditimbulkannya sehingga tujuan asuhan kebidanan dapat tecapai.

c.       Perilaku

Perilaku merupakan hasil dari pengalaman serta interaksi manusia dalam lingkungannya, yang terwujud dalam bentuk pengetahuan sikap dan tindakan. Perilaku manusia bersifat holistic atau menyeluruh. Perilaku dalam pandangan biologis adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, perilaku manusia itu mempunyai cakupan yang sangat luas, mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian dan sebagainya. Bahkan kegiatan internal seperti berpikir, persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh seseorang, baik diamati secara langsung atau secara tidak langsung (Notoatmodjo, 1996)

Bentuk perilaku ada 2 macam yaitu:

  • Bentuk pasif (respon internal), yaitu respon yang terjadi dalam dirimanusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya seorang ibu tahu bahwa tablet penambah darah itu sangat dibutuhkan saat kehamilan, meskipun ibu tersebut tidak meminum tablet penambah darah secara rutin. Dari contoh ini terlihat bahwa ibu tersebut telah tahu guna tablet Fe meskipun dirinya sendiri belum melakukan secara nyata dengan meminum rutin tablet penambah darah. Oleh sebab itu jenis perilaku ini disebut covert behaviour (perilaku terselubung).
  • Bentuk aktif, , yaitu jika perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya ibu melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Karena perilaku ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata maka disebut over behaviour.

Adapun fakfor yang mempengaruhi perilaku seeorang Menurut Green (1990) perilaku seseorang ditentukan oleh 3 Faktor :

  • Predisposing factors : meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai dan persepsi.
  • Enabling factors : meliputi lingkungan dan fasilitas dari sarana kesehatan
  • Reinforcing factors : meliputi sikap dan perilaku petugas kesehatan.

Perilaku ibu selama kehamilan akan mempengaruhi kehamilan, perilaku ibu dalam mencari penolong persalinan akan mempengaruhi kesejahteran ibu dan yang dilahirkan. Demikian pula dengan perilaku ibu pada masa nifas akan mempengaruhi kesehatan ibu dan bayinya.

Bidan sebagai pemberi asuhan kebidanan juga harus memiliki perilaku professional yang mencakup:

  • Dalam melaksanakan tugasnya, bidan berpegang teguh pada filosofi etika profesi dan aspek legal.
  • Bertanggung jawab dalam keputusan klinis yang dibuatnya
  • Senantiasa mengikuti perkembangan pengetahuan dan keterampilan mutakhir secara berkala
  • Menggunakan konsultasi dan rujukan yang tepat selama memberikan asuhan kebidanan
  • Menghargai dan memanfaatkan budaya setempat sehubungan dengan praktik kesehatan, kehamialan, kelahiran, periode pasca salin, bayi baru lahir dan anak.
  • Menggunakan model kemitraan dalam bekerjasama dengan kaum wanita/ibu agar mereka dapat menentukan pilihan yang telah di informasikan tentang semua aspek asuhan, meminta persetujuan secara tertulis supaya mereka bertanggungjawab atas kesehatannya sendiri
  • Menggunakan keterampilan berkomunikasi
  • Bekerjasama dengan petugas kesehatan lain untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan keluarga.

d.      Pelayanan kebidanan

Pelayanan kebidanan adalah suatu praktik pelayanan kesehatan yang spesifik bersifat reflektif dan analisis ditujukan pada wanita khususnya bayi, ibu dan balita dilaksanakan secara mandiri dan profesional yang didukung oleh seperangkat ilmu pengetahuan  yang saling terkait dengan menggunakan suatu metode ilmiah, dilandasi oleh etika dan kode etik profesi.

Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang memberikan asuhan esensial dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan ibu  dan anak balita yang mempengaruhi tingkat kesehatan keluarga. Pelayanan kebidanan yang dilaksanakan diberikan oleh bidan  adalah sesuai dengan kewenangannya berdasarkan peraturan yang ditetapkan pemerintah sesuai standar yang ditetapkan. Pelayanan kebidanan merupakan layanan yang diberikannya dengan maksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka terciptanya keluarga bahagia dan sejahtera. Sasaran kebidanan adalah individu, keluarga dan masyarakat, yang meliputi upaya-upaya berikut:

  • Peningkatan (promotif) : misalnya dapat dilakukan dengan adanya promosi kesehatan (penyuluhan tentang imunisasi, himbauan kepada masyarakat untuk pola hidup sehat
  • Pencegahan (preventif) : dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi TT pada ibu hamil, pemeriksaan hb, imunisasi bayi, pelaksanaan seman hamil dan sebagainya.
  • Penyembuhan (kuratif) : dilakukan sebagai upaya pengobatan misalnya pemberian transfusi darah pada ibu dengan anemia berat karena perdarahan postpartum.
  • Pemulihan (rehabilitatif) : misalnya pemulihan kondisi ibu post seksio caesaria (SC)

Asuhan kebidanan meliputi asuhan prakonsepsi, antenatal, intranatal, neonatal, nifas, keluarga berencana, ginekologi, premenopause, dan asuhan primer. Dalam pelaksanaannya, bidan bekerja dalam system pelayanan yang member konsultasi, managemen kolaborasi, rujukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan klien.

Pelayanan kebidanan merupakan perpaduan antara kiat dan ilmu. Bidan membutuhkan kemampuan untuk memahami kebutuhan wanita dan mendorong semangatnya serta menumbuhkan rasa percaya dirinya dalam menghadapi kehamilan, persalinan, maupun peran sebagai ibu. Dalam menjalankan tugasnya, bidan membutukan ilmu dan kemampuan untuk mengambil keputusan klinik.

e.      Keturunan

Kualitas manusia ditentukan oleh keturunan. Dimana manusia yang sehat akan dilahirkan oleh ibu yang sehat. Hal ini menyangkut penyiapan wanita sebelum perkawinan, sebelum kehamilan (prakonsepsi), masa kehamilan, masa kelahiran, dan masa nifas.

Sehingga kaitan cara pandang bidan dalam memberikan asuhan kebidanan berdasarkan keturunan dengan melihat kondisi fisik wanita pada masa prakonsepsi dan konsepsi, untuk menghasilkan keturunan yang berkualitas.

Contoh kaitan paradigma terhadap asuhan kebidanan :

  1. Asuhan kebidanan pada masa pra-konsepsi

Terkait kepada pemenuhan kebutuhan wanita dalam mempersiapkan kehamilan, dengan melihat keadaan bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual yang berpengaruh terhadap keadaan reproduksi wanita pra-konsepsi sehingga kehamilan direncakan dengan tujuan memperoleh kehamilan yang aman bagi ibu dan janin.

  1. Asuhan kebidanan pada ibu hamil

Pemberian asuhan pada ibu hamil dengan berdasar cara pandang terhadap lingkungan yang berpengaruh terhadap adaptasi ibu pada kehamilan dan perilaku ibu dalam menghadapi kehamilannya, sehingga pemeriksaan kehamilan dengan tujuan mendeteksi secara dini adanya komplikasi pada ibu serta untuk melihat perkembangan kehamilan, serta memberikan asuhan persiapan persalinan, sehingga adaptasi fisik dan psikologi ibu terhadap kehamilan dapat berjalan dengan baik dengan dukungan keluarga atau orang terdekatnya.

  1. Asuhan kebidanan pada ibu bersalin

Memberikan asuhan dalam mengurangi rasa nyeri akibat kontraksi, serta member dukungan psikologis dalam proses persalinan dengan melibatkan pendamping terdekat ibu, sehingga persalinan tetap menjadi persalinan fisiologis tanpa ada intervensi apapun.

  1. Asuhan kebidanan pada ibu nifas

Meliputi pencapaian peran ibu untuk menghindari terjadinya stress postpartum (Postpartum Blues), dimana berdasarkan cara pandang terhadap keadaan fisik dan psikis serta social pada ibu dalam pencapaian perannya sebagai ibu bagi anak yang dilahirkannya, serta bertujuan untuk involusi uterus dan adaptasi tubuh kembali setelah persalinan. Serta pemilihan metode keluarga berencana untuk memaksimalkan asuhan terhadap bayi yang dilahirkan.

  1. Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir

Dimulai dengan menilai kondisi bayi, memfasilitasi terjadinya pernafasan spontan dan melibatkan ikatan batin antara ibu dan bayi baru lahir dengan berbagai metode, serta pemenuhan kebutuhan bayi baru lahir, seperti pencegahan hipotermi, pemberian inisiasi menyusu dini, asi eksklusif dan imunisasi.